Cara Memotong Kuku Menurut Perspektif Fiqih Islam

ISLAM adalah agama yang sangat memperhatikan kebersihan baik zahir dan batin. Kebersihan merupakan sebagian dari keimanan sebagaimana dalam hadis Nabi صلى الله عليه وسلم:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci (thaharah) itu setengah daripada keimanan.” (HR. Muslim)

Termasuk kebersihan di sini adalah memotong kuku sebagai suatu fitrah yang tidak bisa terlepaskan dari manusia. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Fitrah itu ada lima macam: berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menggunting kumis.” (HR. Al-Bukhari Muslim).

Oleh sebab itu, para ulama sepakat tentang kesunnahan memotong kuku ini. Lantas bagaimana sebenarnya cara memotong kuku yang benar dalam perspektif Islam ? Berikut tiga pendapat ulama tentang cara memotong kuku yang benar dalam Islam:

1. Dimulai dari jari telunjuk tangan kanan sampai jari kelingking, kemudian jari jempol tangan kanan, kemudian jari kelingking tangan kiri sampai jari jempol tangan kiri. (Ini adalah pendapat Imam Nawawi, sekaligus adalah pendapat yang lebih kuat

2. Dimulai dari jari telunjuk tangan kanan sampai jari kelingking, kemudian jari kelingking tangan kiri sampai jari jempol tangan kiri dan diakhiri dengan jari jempol tangan kanan. (Ini adalah pendapat Imam Al-Ghazali

3. Dimulai dari tangan kanan, yaitu jari kelingking, kemudian jari tengah, kemudian jari jempol, kemudian jari manis, kemudian jari telunjuk. Untuk tangan kiri, yaitu dimulai dari jari jempol, kemudian jari tengah, kemudian jari kelingking, kemudian jari telunjuk, dan diakhiri dengan jari manis.

Cara yang ketiga ini adalah cara memotong kuku jari-jari tangan, sedangkan untuk memotong jari-jari kaki adalah dimulai dari jari kelingking kaki kanan dan diakhiridengan jari kelingking kaki kiri.

Bagi seseorang yang ketika memotong kuku keadaan berwudhu, sunnah hukumnya agar memperbarui wudhunya setelah memotong kuku, agar keluar dari perkhilafan ulama. Sebab ada dari ulama’ yang mewajibkan berwudhunya ia setelah memotong kuku.

Bagi orang yang sedang junub atau haid sebaiknya tidak memotong kukunya. Sebab kukunya kelak akan dikembalikan kepadanya di akhirat kelak dan menuntutnya dengan sebab junub yang ada pada kukunya tersebut.

Adapun waktu yang sunnah untuk memotong kuku adalah ketika kuku sudah panjang. Jika kuku sudah panjang makruh hukumnya tidak memotongnya dan jika sudah lebih 40 hari belum dipotong, maka hukumnya sangat dimakruhkan. Berdasarkan hadis:

أَنَّ أَنَسًا قَالَ وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Bahwasanya Anas berkata: ditentukan waktu bagi kita dalam menggunting kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan dan bahwa kita tidak membiarkannya keadaan tidak dipotong lebih dari empat puluh malam.” (HR. Muslim)

Adapun hari yang disunnahkan memotong kuku ada tiga hari, yaitu hari Jumat, Kamis dan Senin. Memotong kuku hari Jumat, baiknya pada pagi harinya, sebab Rasulullah صلى الله عليه وسلم memotong kuku sebelum berangkat Salat Jumat.

Keutamaan Memotong Kuku pada Hari Jumat
Berikut kelebihan memotong kuku pada hari Jumat sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Nabi :

مَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وُقِيَ مِنَ السُّوْءِ فِي مِثْلِهَا

“Siapa yang memotong kukunya pada hari Jumat, niscaya ia akan dijaga dari kejahatan.” (HR. ath-Thabrani)

مَنْ قَلَّمَ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ أَخْرَجَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ دَاءً وَأَدْخَلَ فِيْهِ شِفَاءً

“Siapa yang memotong kukunya pada hari Jumat, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla keluarkan darinya penyakit dan memasukkan padanya obat.” (HR. Abdu ar-Razak)

Ketika seseorang telah selesai memotong, maka sebaiknya ia cepat-cepat membasuh ujung jari-jarinya, sebab ketika ia menggaruk kulitnya dengan menggunakan kukunya yang belum ia basuh, dapat membahayakan kulitnya, seperti kena penyakit kulit.

Kuku yang telah dipotong sunnah hukumnya ditanam. Sedangkan kuku jari kaki perempuan yang sudah dipotong hukumnya wajib menyembunyikannya seperti menanamnya. agar lelaki ajnabi tidak melihatnya. Sebab, kuku jarikaki perempuan yang terpotong merupakan aurat yang wajib ditutupi dari lelaki ajnabi.

Demikian keutamaan memotong kuku dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya. Mudah-mudahan bermanfaat dan kita diberi taufik untuk mengamalkannya. Aamiiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *